Beranda > Bekal Perjalanan > Abu Dzarr dan 10 Wasiat dari Rasululloh SAW

Abu Dzarr dan 10 Wasiat dari Rasululloh SAW

8 Juni 2009

Sepuluh wasiat Rasululloh SAW buat Abu Dzarr Al Ghiffary.

Abu dzar Al Ghiffary merupakan seorang sahabat Rasululloh. Ia seringkali mengadakan Tanya jawab dan dialog dengan beliau. Macam macam persoalan  yang dajukannya.

Abu Dzarr Merupakan Seoarang kepala Suku dari suku Ghiffar. Tatkala mendengar berita ajaran yang dibawakan oleh Rasululloh, maka segera dikirimkannya utusannya untuk menyelidiki ajaran baru itu. Utusan tersebut kemudian kembali dengan khabar yang menakjubkan sehinnga ia perlu kiranya untuk mempelajari sendiri agama tersebut secara langsung.

Ia pun berangkat ke Madinah menemui Rasulluloh SAW. Dengan demikian ia memeluk agama islam dan mempelajari pokok-pokok agama secara langsung dari Rasululloh SAW. Setelah itu ia kembali kekaumnya,  Kemudian abu dzarr bermaksud untuk menghayati ajaran islam lebih mendalam maka ia memutuskan untuk pindah ke Madinah guna mendapingi rasulluloh SAW.

Abu Dzarr adalah seorang yang tinggi perasaan kemanusiaanya. Ia terkenal dengan orang yang senantiasa melaksanakan ajaran-ajaran sosialisme islam dalam kehidupan sehari-harinya, sehingga makan pun selalu dengan pembantunya. Makanan dan pakaian yang dipakainya oleh para pembantunya serupa pula dengan yang digunakan dan dimakannya.

Pada suatu ketika terjadi dialog Abu dzarr dengan Rasululloh SAW yang menurunkan sepuluh persoalan wasiat ini dan merupakan pegangan untuk ummat Nabi Muhammad SAW. Dalam kesempatan itu abu dzarr mengatakan” berilah wasiat kepadaku ya Rasululoh!”

Segera saja rasululoh mengatakan :

1.Bertakwa kepada Allah SWT,

Ushiika  bi taqwal’lah, fahiya rasul amri kulihi, Aku wasiatkan kepadamu, supaya bertakwa kepada Allah SWT, sebab takwa merupakan pokok segala sesuatu. Kalau dicermati dlam takwa itu mengandung  tiga unsur:

  • Tidak melakukan perbuatan yang mengundang murka Allah
  • Menjauhi berbagai hal yang merugikan diri sendiri
  • Menjauhi perbuatan atau tindakan yang merugikan orang lain

2.Rajin membaca Alqur’an.

Alaika bi tilaawatil Qur’ani, fahuwa nuurun laka fil ardhi, Wadzikrun laka fis samaai. Biasakanlah membaca Al qur’an. Sebab dia akan menjadi cahaya bagimu didunia ini dan menjadi sebutan baik bagimu dilangit.

Hendaknya disadari bahwa Alqur’an itu mempunya dua manfaat:

  • Manfaat didunia,Akan menenteramkan hati yang gelisah, mengobati penyakit hati dan  jasmani.
  • Manfaat diakherat memberikan kenikmatan hidup yang abadi

3.Jangan banyak Tertawa.

Iyyaka wakastratad dhahki fainnahu yumitul qalba wa yudzhibu binuuril wajhi. Janganlah kamu memperbanyak tertawa sebab sikapitu akan mematikan hati dan memadamkan cahaya wajah.

Maksudnya jangan terlalu banyak dalam bersuka ria dengan kenikmatan didunia ini.

4.Memperbanyak diam

Alaika bish shumti illa min khairin, fainnahu muthridatun lisy syaithani ‘anka wa ‘aunun laka ‘alaa aziinika. Perbanyaklah diam, kecuali untuk menyampaikan kebaikan , sebab sikap diam itu akan bisa menghalau syetan . dan dapat menolongmu mengenai urusan agamamu.

5.Mencintai orang-orang  Miskin

Ahibbal masaakiina wa jaalis-hum. Cintailah orang-orang miskin, bergaulah ditengah tengah mereka.

6.Melihat ke Bawah jangan ke Atas

Undhur  ila man tahtaka , wala tandhur ilaa man fauqaka fainnahu ajdaru bika anlaa tazdariya ni’matallahi ‘indaka. Lihatlah orang orang yang dibawahmu, jangan pada orang yang ada diatasmu. Sebab sikap yang demikian itu akan lebih tahu terhadap kenikmatan Allah yang diberikan kepadamu.

7.Memelihara hubungan silaturahim.

Shil qaraabataka wain qatha’uuka. Kuatkanlah hubungan silaturahim dengan keluargamu, kendatipun mereka memutuskan hubungan denganmu.

8.Jangan takut kepada Celaan.

Laa takhsya fillaahi laumata laim. Janganlah takut membela agama Allah lantaran dicela Manusia.

9.Menegakan Kebenaran

Qulil haqqa wainkaana Murra, katakanlah Al-haq(kebenaran) itu walaupun pahit.

10.Menyadari aib sendiri.

Yariduka ‘anin naasi maa ta’rifu ‘an nafsika, walaa tajidu ‘alaihim fiima ta’ti. Wa kafaa bihii ‘aiban an ta’rifa minan naasi maa tajhalu bihi ‘an nafsika au tajidu ‘alaihim fiimaa ta’ti.

Demikianlah intisari wasiat Rasululloh kepada Abu Dzarr al-Ghifary yang penuh dengan nilai hikmah. Semoga kita dapat mengambil manfaatnya . Amin

Kategori:Bekal Perjalanan
%d blogger menyukai ini: