Beranda > Uncategorized > Tawakal dan Optimisme

Tawakal dan Optimisme

18 Maret 2009

Tawakal dan Optimisme

Bila kita melihat berita yang ada dikoran dan televisi pasti sering mendengar dan membaca Global Crisis,  apaan sih krisis global itu mungkin yangpaling terkena imbasnya adalah pekerja yang berhubungan dengan sektor ekspor impor …  Dalam kehidupan ini, selalu saja ada episode berhasil dan episode gagal, naik dan turun . Akan tetapi akan lebih baik jika kita optimis menjalaninya. Jika dalam fikiran kita selalu muncul fikiran optimis, sendi-sendi dan semua elemen penyusun tubuh ini akan bergerak bersama-sama mengikuti fikiran kita, sedangkan ketika dalam diri ini dipenuhi jiwa kegelisahan, maka semua elemen tubuh kita akan loyo untuk melakukan sesuatu. Dan selalu saja, daftar orang-orang yang sukses itu, dijejali dengan orang-orang yang berjiwa optimis. Yang diperlukan dalam perjalanan hidup ini adalah, menjalaninya dengan sepenuh hati, bertawakal kepada Allah dan juga berusaha (berbuat kebajikan). Dan sebagai seorang muslim, lantas kita berkeyakinan bahwa apa yang kita kerjakan ini ada nilainya bagi dunia dan akhirat. Dan orang-orang yang semacam ini dikatakan oleh Allah wa laa qoufun ‘alaihim walaa yahzanuun, dan tidak ada kekhawatiran dan sedih hati pada diri mereka “(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah 112) Setiap muslim, terhadap apapun yang terjadi pada dirinya, selalu di sikapi dengan optimisme. Bahkan ketika sakitpun, atau musibah mengena padanya iapun menghadapinya dengan jiwa optimisme. Abdu said dan abu Hurairah berkata: Bersabda Rasulullah SAW : Tiada seorang muslim yang menderita kelelahan atau penyakit, atau kesusahan(kerisauan hati), bahkan gangguan yang berupa duri, melainkan semua kejadian itu akan menjadi penebus dosa baginya. Dan dalam riwayat lain dikatakan : Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan, dan menzalimi lalu beristighfar, maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah (HR Al Baihaqi) Dan kesimpulannya, makna optimisme itu, …. memandang positif pada setiap persoalan.

Kategori:Uncategorized
%d blogger menyukai ini: