Beranda > Pengajian Dunia > Marga Arab Hadramaut

Marga Arab Hadramaut

14 Maret 2009

Untuk penambahan wawasan Habaib, saya dapat postingan menarik, semoga berkenan.

Marga Arab Hadramaut

Secara umum penggolongan Marga Arab Hadramaut itu dikategorikan dalam 4 golongan:

  1. Alawiyin (golongan yang mengaku keturunan Rasulullah via keturunan Ahmad bin Isa (AlMuhajir))
  2. Qabili / Qabail / Qabayl (golongan yang memegang senjata)
  3. Masaikh / Dhaif (gologang pedagang / petani / rakyat kebanyakan)
  4. Abid (golongan pembantu / hamba sahaya)

Latar Belakang

Alkisah, golongan Alawiyin karena desakan politik di persia (iran) terpaksa hijrah mencari penghidupan yang lebih baik ke daerah Hadramaut. Disana mereka menyampaikan kepada beberapa muqaddam (kepada suku) mengenai maksud untuk tinggal di Hadramaut dan juga menerangkan jati diri mereka (sebagai turunan Rasulullah). Sebelum secara resmi mereka diterima, muqaddam disaat itu mengirim utusan ke Hejaz untuk mengecek mengenai keberadaan mereka (terutama status turunan Rasul). Namun, setelah beberapa waktu, ada satu keluarga di Hadramout tersebut yang langsung menerima golongan Alawiyin ini untuk tinggal tanpa menunggu kepulangan utusan yang dikirim dan penerimaan secara resmi. Selanjutnya keluarga ini dikenal dengan nama keluarga Bafadhal, yaitu “golongan yang menerima”

Di bawah ini adalah daftar nama marga orang Arab keturunan Yaman (suku Arab Hadramaut):

A

  • Abbad, Abdul Aziz, Abudan, Aglag, Al Abd Baqi, Al Aidid, Al Ali Al Hajj, Al Amri, Al Amudi, Al As, Al As-Safi, Al Ba Abud, Al Ba Faraj, Al Ba Harun, Al Ba Raqbah, Al Baar, Al Bagdadi, Al Baiti, Al Bakri, Al Bal Faqih, Al Barak, Al Bargi, Al Barhim, Al Batati, Al Bawahab, Al Bin Jindan, Al Bin Sahal, Al Bin Semit, Al Bin Yahya, Al Bukkar, Al Fad’aq, Al Falugah, Al Gadri, Al Hadi, Al Hadi, Al Halagi, Al Hasani, Al Hasyim, Al Hilabi, Al Hinduan, Al Huraibi, Al Aydrus, Al Jabri, Al Jaidi, Al Jailani, Al Junaid, Al Kalali, Al Kalilah, Al Katiri, Al Khamis, Al Khatib, Al Kherid, Al Madhir, Al Mahdali, Al Mahfuzh, Al Matrif, Al Maula Dawilah, Al Maula Khailah, Al Munawwar, Al Musawa, Al Mutahhar, Al Qadri, Al Qaiti, Al Qannas, Al Rubaki, Al Waini, Al Yafi’ie, Al Yamani, AlMathori, AlMukarom, Ambadar, Arfan, Argubi, Askar, Assa’di, Assaili, Asy Syarfi, Attamimi, Attuwi, Azzagladi,al Dames

B

  • Ba Abdullah, Ba Attiiyah, Ba Atwa, Ba Awath, Ba Dekuk, Ba’ Dib, Ba Faqih, Ba Sendit, Ba Siul, Ba Sya’ib Bin Ma’tuf Bin Suit, Ba Syaiban, Ba Tebah, Ba Zouw, Ba’asyir, Babadan, Babten, Badegel, Badeges, Ba’dokh, Bafana, Bafadual, Bagaramah, Bagarib, Bagges, Bagoats, Bahafdullah, Bahaj, Bahalwan, Bahanan, Baharmus, Baharthah, Bahfen, Bahmid, Bahroh, Bachrak, Bahsen, Bahwal, Bahweres, Baisa, Bajabir, Bajened, Bajerei, Bajrei, Bajruk, Bakarman, Baksir, Baktal, Baktir, Bal Afif, Baladraf, Balahjam, Balasga, Balaswad, Balfas, Baljun, Balweel, Bamakundu, Bamasri, Bamasak , Bamatraf, Bamatrus, Bamazro, Bamu’min, Banaemun, Banafe, Bana’mah, Banser, Baraba, Baraja, Barakwan, Barasy, Barawas, Bareyek, Baridwan, Barjib, Baruk, Basalamah, Basalim, Basalmah, Basgefan, Bashay, Ba’sin, Baslum, Basmeleh, Basofi, Basumbul, Baswel, Baswer, Basyarahil, Batarfi, Bathef, Bathog, Ba’Tuk, Bawazier, Baweel, Bayahayya, Bayasut, Bazandokh, Bazargan, Bazeid, Billahwal, Bin Abd Aziz, Bin Abd Samad, Bin Abdat, Bin Abri, Bin Addar, Bin Afif, Bin Ajaz, Bin Amri, Bin Amrun, Bin Anuz, Bin Bisir, Bin Bugri, Bin Coger, Bin Dawil, Bin Diab, Bin Duwais, Bin Faris, Bin Gannas, Bin Gasir, Bin Ghanim, Bin Ghozi, Bin Gozan, Bin Guddeh, Bin Guriyyib, Bin Hadzir, Bin Hafidz, Bin Halabi, Bin Hamid, Bin Hana, Bin Hatrash, Bin Hilabi,Bin Hizam, Bin Hud, Bin Humam, Bin Huwel, Bin Ibadi, Bin Isa, Bin Jaidi, Bin Jobah, Bin Juber, Bin Kartam, Bin Kartim, Bin Keleb, Bin Khalifa, Bin Khamis, Bin Khubran, Bin Mahri, Bin Mahfuzh, Bin Makki, Bin Maretan, Bin Marta, Bin Mattasy, Bin Mazham, Bin Muhammad, Bin Munif, Bin Mutahar, Bin Mutliq, Bin Nahdi, Bin Nahed, Bin Nub, Bin On, Bin Qarmus, Bin Sadi, Bin Said, Bin Sanad, Bin Seger, Bin Seif, Bin Syahbal, Bin Syaiban, Bin Syamil, Bin Syamlan, Bin Syirman, Bin Syuaib, Bin Tahar, Bin Ta’lab, Bin Sungkar, Bin Tebe, Bin Thahir, Bin Tsabit, Bin Ulus, Bin Usman, Bin Wizer, Bin Zagr, Bin Zaidan, Bin Zaidi, Bin Zimah, Bin Zoo, Bukkar,Badziher.

T

  • Thalib

G

  • Ghana’

H

  • Haidrah, Hamde, Hamadah, Harhara, Hatrash, Hubeisy,Hayaze, Hasni, Humaid

J

  • Jawas, Jibran, Jabli

K

  • Karamah, Kurbi

M

  • Magadh, Makarim, Marfadi, Martak, Mashabi, Mugezeh, Munabari, Mahdami,Machdan

N

  • Nabhan

S

  • Sallum, Shahabi, Shogun, Sungkar, Syaiban, Syammach, Syawik,Syagran.

U

  • Ugbah, Ummayyer

Z

  • Za’bal, Zaidan, jurhum, Zeban, Zubaidi

Marga Al-Bafaraj

Yang pertama kali dijulukan (digelari) ” AI-Bafaraj ” adalah Waliyyullah Faraj bin Ahmad AI-Masrafah bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi Ammil Faqih.

So’al gelar yang disandangnya karena ayah Beliau memberi nama Faraj (yang artinya Senang dan Berkat ) pada Beliau ; dengan pengharapan semoga Allah SWT akan menjadikan anaknya kelak seorang yang Shaleh mendapat penuh kesenangan dan keberkatan. Dan kenyataannya Faraj bin Ahmad Masrafah menjadi seorang Waliyyullah yang selalu berjuang Fi Sabilillah.

Waliyyullah Faraj bin Ahmad AI-Masrafah dilahirkan di kota Tarim. Dikaruniai 4 orang anak lelaki , masing-masing bernama : Abubakar ; Umar ; Abdullah dan Alwi. Beliau-Beliau yang melanjutkan keturunan Al-Bafaraj ; terutama yang kebanyakan berada di Indonesia.

Waliyyullah Faraj bin Ahmad Al-Masrafah pulang ke Rahmatullah di kota Tarim pada tahun 876 Hijriyyah.

Semoga Allah SWT memasukkan Beliau Beliau ke dalam Surga dan menghimpunkannya bersama-sama para Nabi, para Syuhada, para Auliya dan para Sholihin. Amin !.

Marga Al-Bil-Faqih

Yang pertama kali dijuluki (digelari) “BilFaqih” adalah waliyyullah Abdurrahman bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Asgok bin Abdullah bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al Faqih Al-Muqaddam.
So’al gelar yang disandangnya karena ayah Beliau adalah seorang ulama besar yang menguasai ilmu ilmu Agama Islam diantara ilmu yang banyak dikuasainya adalah ilmu “Fiqih”, ilmu syariat agama Islam, dengan sendirinya Beliau menjadi seorang ulama besar dan waliyyullah pula mengikuti jejak ayahnya.
Waliyyullah Abdurrahmari bin Muhammad Bil-Faqih dilahirkan di kota Tarim. Dikaruniai dua orang anak masing-masing Husein dan Ahmad yang keduanya menurunkan keturunannya.

Waliyyullah Abdurrahman bin Muhammad BilFaqih pulang ke Rahmatullah di kota Tarim pada tahun 966 Hijriyyah.

Semoga Allah SWT memasukkan Beliau-Beliau ke dalam Surga dan menghimpunkannya bersama-sama para Nabi, para syuhada, para Auliya dan para Sholihin. Amin !.

Marga Al-Fad’aq

FAD’AQ, arti dari nama sejenis harimau. Leluhur Alawiyyin yang mendapat gelar Fad’aq dikarenakan mempunyai sifat kuat dan berani seperti Harimau (macan). Sewaktu berdakwah (berjuang) fi Sabilillah.
Ada dua golongan Alawiyyin yang bergelar AI-Fad’aq. Masing masing disandang :

  1. Oleh Waliyyullah Umar Fad’aq bin Abdullah Wathab bin Muhammad Al-Manfar
    Beliau dilahirkan di Jami Gasam (Hadramaut). Dikaruniai 6 orang anak laki-laki. 4 diantaranya yang menurunkan keturunannya; masing-masing bernama:1. Muhammad, menurunkan Al-Fad’aq yang bergelar: Al-Bait Mahrus, keturunannya hanya berada di Misygoroh (Hadramaut).
    2. Ali, menurunkan A!-Fad’xq yang disebut AI-Syatiri-Bunami, keturunannya hanya berada di Magad dan di Dhifar (Hadramaut).
    3. Alwi, keturunannya hanya berada di India
    4. Ibrahim, keturunannya hanya berada di Gasam; di Dhifar, di Magad (Hadramaut) dan di Jaman Utara
  2. Waliyyullah Umar Fad’aq bin Abdullah Wathab berpulang ke Rahmatullah di Jami’ Gasam pada tahun 910 Hijriyyah.
  3. Disandang oleh Waliyyullah Fad’aq bin Muhammad bin Abdullah bin Mubarak bin Abdullah Wathab bin Muhammad Al-Manfar
    Gelar yang disandangnya, kemungkinan ayah Beliau menamakan anaknya dengan Fad’aq dengan pengharapan semoga anaknya dapat keberkatan dan meneladani Waliyyullah Umar Fad’aq pendahulunya.
    Beliau dilahirkan di: Baydlo’ (Hadramaut): Dikanuniai 5 orang anak laki-laki. 3 diantaranya yang melanjutkan keturunannya masing-masing yang bernama: Hasan, A’gil dan Abdullah. Keturunannya semuanya hanya disebut “Al-Fad’aq” saja, yang kebanyakan berada di Indonesia.
    Beliau pulang ke Rahmatullah di Baydlo’ pada tahun 1000 Hijnyyah

Semoga Allah SWT memasukkan Beliau-Beliau ke dalam Surga dan menghimpunkannya bersama-sama para Nabi, para Syuhada, para Auliya dan para Shalihin. Amin !

Marga Al-Auhaj

Yang pertama kali digelari “Al-Auhaj” adalah Habib Abdullah bin Alwi bin Ali bin Abu Bakar Al-Fakher bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi Ammil Faqih.
Soal gelar yang disandangnya, karena beliau bemukim di dusun yang disebut “Auhaj” di Yaman.

Beliau dilahirkan di kota Tarim (Hadhramaut), dan dikarunia 3 orang Putera, yaitu Ahmad, Ali dan Abdullah; yang kemudian melanjutkan keturunan beliau. Terutama yang berada di Indonesia.

Habib Abdullah Al-Auhaj bin Alwi bin Ali wafat di Goroh (Hadhramaut) pada tahun 868 Hijriyah.

Marga Al-Ba ‘Agil

Yang pertama kali dijuluki (digelari) “Ba ‘Agil” adalah Habib Agil bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah.

Beliau dilahirkan di kota Tarim (Hadhramaut), dan dikarunia 1 orang Putera yaitu Abdurrahman.

Habib Abdurrahman bin Agil mempunyai 3 orang putera yaitu :

  • Hasan
  • Muhammad-Al Hadi. Keduanya menurunkan keturunan “Al-Ba’agil Assegaf
  • Umar, menurunkan keturunan “Ba’agil

Habib Agil bin Abdurrahman Assegaf wafat di kota Tarim pada tahun 871 Hijriyah.

Marga Al-Bal-Ghoits

Yang pertama kali (digelari) “AI-Balghoits” adalah Ahmad bin Al Ghoits bin Ahmad bin Umar bin Ahmad bin Muhammad bin Umar Al-Hamra.

Soal gelar “Al-Baghoits” ada dua versi penyebabnya:

  1. Menyatakan bahwa : Datuk Beliau yaitu Ahmad bin Umar AI-Hamra menamakan Ayah Beliau dengan Al-Ghoits dengan pengharapan agar anaknya mendapat berkat dan hidayah serta kelak menjadi seorang Waliyyullah sebagaimana yang didapat oleh pendahulunya Waliyyullah yang tersohor “Abul – Ghoits “.
  2. Menyatakan bahwa : Sewaktu di daerah dimana Waliyyullah Ahmad Al-Balghoits bermukim yaitu di Lahij (Yaman) mengalami musim kemarau yang berkepanjangan; maka penduduk setempat memohon Waliyyullah Ahmad Balghoits agar supaya memanjatkan do’a kepada Allah agar supaya Allah SWT segera menurunkan hujan. Kemudian do’a Beliau dikabulkan dengan turunnya hujan. Hujan dalam bahasa Arabnya adalah ” AI-Mathar ” dan sinonimnya yaitu “AI-Ghoits“.

Beliau dilahirkan di kota Lahij. Dikaruniai seorang anak lelaki yang dinamai Alwi yang melanjutkan keturunan Beliau, yang berada di Timur Tengah dan di Indonesia ( yang kebanyakan berada di Kalimantan ). Beliau pulang ke Rahmatullah di kota Lahij pada tahun 990 Hijriyyah.

Semoga Allah SWT memasukkan Beliau Beliau ke dalam Surga dan menghimpunkannya bersama-sama para Nabi, para Syuhada, para Auliya dan para Sholihin. Amin !.

Marga Al-Qadri

Yang pertama kali dijuluki (digelari) “Al-Qadri” adalah waliyullah Muhammad bin Salim bin Abdullah bin Muhammad Bin Salim bin Ahmad bin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Hasan Al-Muallim bin Muhammad bin Hasan Atturabi.
So’al gelar yang disandangnya karena Beliau dalam semua aspek kehidupannya selalu menyerahkan dirinya (pasrah) pada Taqdir Allah, terutama sewaktu ditimpa suatu Musibah (bencana). hal tersebut menunjukkan bahwa Beliau seorang yang beriman kuat sekali. Kata Taqdir berasat dari bahasa Arab yang sinonimnya yaitu “AI-Qadar“.
Waliyyullah Muhammad Al-Qadri dilahirkan di Tarim Hadramaut. Dikaruniai 2 orang anak lelaki yang melanjutkan keturunannya, masing-masing bernama :

  1. Abdullah, keturununnya hanya berada di Macha’ (Hadramaut)
  2. Husein, keturunannya kebanyakan berada di Indonesia; termasuk diantaranya Sultan Abdurrahman bin Waliyyulah Al-Habib Husein bin Ahmad Al-Qadri, Pendiri Kota Pontianak (Kalimantan). Beliau dikaruniai 6 anak. Wafat pada tahun 1231 Hijriyyah di Batu Layang Pontianak.

Waliyyullah Muhammad bin Salim Al-Qadri pulang ke Rahmatullah di kota Tarim pada tahun 1079 Hijriyyah.

Semoga Allah SWT memasukkan Beliau Beiiau ke dalam Surga dan menghimpunkannya bersama-sama para Nabi, pars Syuhada, para Auliya dan para Sholihin. Amin !.

Kategori:Pengajian Dunia
%d blogger menyukai ini: