Arsip

Archive for the ‘Sejarah Nusantara’ Category

Tata cara perkawinan adat Jawa2

29 Januari 2010 Komentar dimatikan

Perkawinan adat jawa

Bleketepe, (dan makna upacaranya)

Merupakan suatu tradisi membuat atau anyaman dedaunan kelapa untuk dijadikan atap atau peneduh resepsi manten, tatacara ini mengambil ajaran dari Ki Ageng Tarub, salah satu leluhur raja mataram. Saat mempunyai hajat menikahkan anaknya dewi Nawangsih dengan Raden Bondan Kejawan, KiAgeng membuat anyaman peneduh dari anyaman daun kelapa karena rumah ki Ageng kecil dan tidak dapat memuat banyak tamu sehingga Ki Ageng membuat payon dari daun kelapa. Dengan diberi payon ruang itu dapat dipergunakan para tamu dan menjadi luas dan dapat dipergunakan untuk menjamu tamu yang hadir. Kemudian payon dari daun kelapa tersebut disebut Tarub berasal dari orang yang pertama yang membuatnya. baca lagi…

Tata cara Perkawinan adat jawa

6 Januari 2010 Komentar dimatikan

Java Wedding Dress

Susunan kegiatan acara pernikahan adat jawa Solo

A.  Pendahuluan

I. Pasang Tratag/Tenda dan Pengajian selamatan

a. Pasang tratag/tenda

b.pengajian/selamatan dikediaman mempelai wanita

II. Pasang Tuwuhan

a. Persiapan

b. Upacara pasang Bleketepe baca lagi

Habibku di Nusantara

17 Maret 2009 Komentar dimatikan

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau , apabila kita melihat fenomena sekarang ini banyak orang yang merasa lebih mulya dibandingkan orang lain, banyak orang yang merasa lebih mempunyai pengaruh terhadap orang lain, banyak orang yang merasa paling berwibawa terhadap orang lain.apakah wajar? Saya rasa sih wajar. Hal tersebut merupakan kewajaran manusia dalam meyelaraskan ego keduniaan. Tapi apakah merupakan suatu kewajaran apabila seorang sudah mengkultuskan seorang. Tanpa sadar bahwa pengidolaanya sudah melewati ambang batas kewajaran . apalagi sudah ke maghruur . waduh jangan sampai deh. Saya punya postingan bagus untuk perbandingan mengenai orang yang mulia. Disini ukuran dan penilaiannya terserah netter saja.

Senin, 11 Agustus 2008

Amma ba’du: Alhamdulillah, kami bersyukur kehadirat Allah SWT, karena akhirnya keinginan kami untuk mendata keluarga Azmatkhan yang tersebar di Indonesia mulai terlaksana. Hal ini berkat kegigihan para pemrakarsa, khususnya KH. Ali bin Badri Azmatkhan yang telah mengadakan penelitian nasab keturunan Azmatkhan sejak tahun 2002, bahkan beliau juga telah mulai menulis sejarah tokoh-tokoh Azmatkhan, dimulai dari leluhur mereka yang awalnya melanglang buana hingga ke Indonesia, yaitu yang beliau tulis dalam buku yang berjudul “Dari Kanjeng Nabi Sampai Kanjeng Sunan”, hingga beliaupun mulai menulis tentang generasi penerus Sunan-sunan itu dimulai dengan Syekh Kolil Bangkalan dalam seri pertama buku “Dari Kanjeng Sunan Sampai Romo Kiai”. Pendataan itu kami awali dengan pembentukan sebuah ikatan keluarga yang kami beri nama “Raabithah Aal Azmatkhan Al-Husaini” atau Ikatan Keluarga Azmatkhan Al-Husaini Indonesia (kemudian disingkat IKAZHI). Awalnya, IKAZHI kami dirikan dengan “dewan sederhana” di Madura pada tahun 2005, kemudian kami kukuhkan dan kami resmikan secara nasional di Pesantren Zainul Hasang Genggong Probolingga pada tanggal 16 Syawal 1428 / 28 Oktober 2007, dengan dihadiri oleh berbagai perwakilan rumpun keluarga dari Madura, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Banten. Dalam kesempatan ini kami umumkan kepada sanak keluarga, bahwa IKAZHI sedang mendata keluarga Azmatkhan, dimana sampai saat ini tim kami baru menemukan sepuluh rumpun keluarga yang bersambung nasab pada leluhur keluarga Azmatkhan Indonesia, yaitu sebagai berikut: 1. Sayyid Ibrahim (Sunan Bonang) bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel) bin Ibrahim bin Husain Jamaluddin bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. 2. Sayyid Qasim (Sunan Drajat) bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel) bin Ibrahim bin Husain Jamaluddin bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. 3. Sayyid Muhammad ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Ishaq bin Husain Jamaluddin bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. 4. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) bin Abdullah Umdatuddin bin Ali Nuruddin bin Husain Jamaluddin bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. 5. Sayyid Ja’far Ash-Shadiq (Sunan Kudus) bin Utsman Haji (Sunan Ngudung) bin Fadhal Ali Al-Murthada (Raden Santri / Raja Pandita) bin Ibrahim bin Husain Jamaluddin bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. 6. Sayyid Haji Utsman (Sunan Manyuran) bin Fadhal Ali Al-Murthada (Raden Santri / Raja Pandita) bin Ibrahim bin Husain Jamaluddin bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. 7. Sayyid Fathullah (Falatehan) bin Ibrahim bin Abdul Gahfur bin Barakat Zainal Alam bin Husain Jamaluddin bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. 8. Sayyid Tuan Faqih Jalaluddin (Palembang) bin Kamaluddin bin Fadhal bin Muhammad Manshur bin Kiai Gusti Agung Rama bin Sunan Kramasari bin Husain Jamaluddin bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. 9. Sayyid Abdul Kafi (Datuk Kahfi Cirebon) bin Sulaiman Al-Baghdadi bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. 10. Sayyid Abdurrahman (Pangeran Panjunan) bin Sulaiman Al-Baghdadi bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. 11. Sayyid Abdurrahim (Pangeran Kejaksan) bin Sulaiman Al-Baghdadi bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. Maka bagi Anda yang memiliki silsilah atau informasi keturunan mereka, atau memiliki informasi jalur lain yang belum kami dapatkan, kami harap bantuannya untuk membantu kami dalam melakukan pendataan, dengan mendaftar bagi pemilik silsilah atau memberikan informasi pada kami, untuk -insyaallah- segera kami teliti dan kami pelajari kemudian kami masukkan kedalam file IKAZHI. Kami menerima pendataan umum, baik dari garis laki-laki maupun garis perempuan, karena IKAZHI adalah sarana untuk silaturrahim. Namun demikian, untuk menggunakan nama belakang “Azmatkhan”, kami hanya mengesahkan yang bergaris laki-laki. Bagi yang bergaris perempuan, apabila mau menggunakan nama belakang “Azmatkhan” hendaknya ditambah dengan kalimat “Khu’ulah” dan dalam penulisan boleh disingkat saja dengan “Kh.”. Contoh: Muhammad bin Ahmad Azmatkhan Kh. Hal ini hendaknya diperhatikan agar tidak mengacau istilah pernasaban Arab. Untuk mendaftar dan memberi informasi, Anda dapat menghubungi kami di: • Alamat surat menyurat : Jl. Bahagia No. 54/2 Cirebon Jawa Barat. • Konfirmasi Langsung: • Kantor Kenazhiran Masjid Kesultanan Banten (KH. Fathul Azhim Khatib Azmatkhan). • Keraton Kanoman, Cirebon (Pangeran Patih Kodiran) • Keraton Kacirebonan, Cirebon (Pangeran Raja Ruslan) • Pesantren Zainul Hasan, Genggong Probolinggo Jawa Timur (KH. Saiful Islam Azmatkhan). • Pesantren Tengginah, Tattangoh Pamekasan Madura (KH. Ahmad Ridho bin Shonhaji Azmatkhan). • Yayasan Makam Saichona Cholil, Bangkalan Madura (KH. Fuad bin Amin Azmatkhan). • Pesantren Al-Azhar An-Nur I, Bululawang Malang Jawa Timur (KH. Mas’udi Busyiri Azmatkhan, Lc, MA) • Pesantren Terpadu Sabilul Huda, Batu Jawa Timur (KH. Dr. Burhanul Arifin Azmatkhan) • Telp. atau SMS : 08883370788 dan 081322978350. • E-mail : azmatkhan_indo@yahoo.com • Web site: www. zmatkhanalhusaini. com Dan sekedar informasi, selain dari keluarga Keraton Cirebon dan keluarga Kesultanan Banten, kami telah menghasilkan cukup banyak data dan aggota dari berbagai daerah, diantaranya keluarga-keluarga keturunan Sunan Cendana (Kuanyar Bangkalan Madura), Keluarga Syekh Kholil (Bangkalan Madura), Keluarga Syekh Batu Ampar (Pamekasan Madura), Keluarga Kiai Jazuli Abdul Kabir (Tattangoh Pamekasan Madura), Keluarga KH. As’ad Syamsul ‘Arifin (Asembagus, Situbondo Jawa Timur), Keluarga KH. Hasan Genggong (Probolinggo Jawa Timur), Keluarga KH. Hamdani Siwalan Panji (Sidoarjo Jawa Timur), Keluarga Kiai Mustaqim (Sukorejo Pasuruan Jawa Timur), Keluarga Kiai Muhammad Thoyyib (Keramat Pasuruan), Keluarga keturunan Kiai Anthol Tholhah (Mojokerto Jawa Timur), Keluarga KH. Abdullah Bendo (Kepanjen Malang), Keluarga Pesantren An-Nur Bululawang (Malang), Keluarga K.H.M. Ihya’ Ulumiddin (Pesantren Al-Haromain Pujon, Malang), Keluarga Syekh Ahmad Mutamakkin (Kajen, Pati, Jawa Tengah), Keluarga Pesantren Sarang (Jawa Tengah), Keluarga Kiai Asy’ari (Pesantren Kaliwungu Jawa Tengah), Keluarga Pesantren Buntet dan Pesantren Benda Kereb (Cirebon Jawa Barat), Keluarga Pesantren Nurush-shiddiq (keturunan Pangeran Panjunan Cirebon), Keluarga keturunan Pangeran Jayakarta (Kaum Jatinegara Jakarta) dll. Majlis Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Azmatkhan Al-Husaini Indonesia (IKAZHI) KH. Ahmad Ridho bin Shonhaji Azmatkhan K e t u a U m u m Sejarah mencatat nama Sayyid Abdul Malik Azmatkhan dalam jajaran penyebar Islam di India. Beliau memiliki banyak putra, dan putra sulungnya bernama Abdullah. Abdullah Azmatkhan pernah menjadi menteri dan menjadi delegasi Kerajaan Naserabad ke negeri-negeri timur, beliau sempat bersaing dengan Marcopolo di daratan Cina. Abdullah Azmatkhan memeliki seorang putra bernama Ahmad Jalaluddin, dan beliau inilah yang menurunkan keluarga Azmatkhan Indonesia melalui dua orang putra beliau, Husain Jamaluddin dan Sulaiman Al-Baghdadi. Husain Jamaluddin menurunkan sebagian besar anggota Walisongo, termasuk Sultan-sultan Cirebon dan Banten, sedangkan Sulaiman Al-Baghdadi menjdai Sultan di Tailand dan kemudian tiga orang putra dan seorang putri beliau hijrah ke Cirebon. Keterangan ini merefisi tulisan SURYA 29/10/2007, dimana disitu tertulis bahwa Sultan Sulaiman menurunkan Sultan-sultan Cirebon. Untuk lebih jelasnya perhatikan silsilah tokoh-tokoh era Walisongo berikut ini: • Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel) bin Ibrahim bin Husain Jamaluddin. • Ibrahim (Sunan Bonang) dan Qasim Syarifuddin (Sunan Drajat) adalah putra Sunan Ampel. • Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Ishaq bin Ibrahim bin Husain Jamaluddin. • Ja’far Shadiq (Sunan Kudus) bin Utsman Haji (Sunan Ngudung) bin Ali Al-Murtadha (Raden Sntri) bin Ibrahim bin Husain Jamaluddin. • Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) bin Abdullah bin Ali bin Husain Jamaluddin • Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) bin Barakat bin Husain Jamaluddin. • Fatahillah (Pangeran Jayakarta) bin Ibrahim bin Abdul Ghafur bin Barakat bin Husain Jamaluddin. • Abdul Kafi (Datuk Kahfi Cirebon) bin Sulaiman Al-Baghdadi. • Abdurrahman (Pangeran Panjunan Cirebon) bin Sulaiman Al-Baghdadi. • Abdurrahim (Pangeran Kejaksan Cirebon) bin Sulaiman Al-Baghdadi. Nah, Kiai-kiai yang berkumpul di Genggong 28/10/2007 itu adalah keturunan dari beberapa tokoh diatas, mereka datang dari berbagai jalur dan berbagai daerah di Indonesia untuk membentuk ikatan keluarga keturunan Abdul Malik Azmatkhan yang diberi nama “Ikatan Keluarga Azmatkhan Al-Husaini Indonesia” dan disingkat IKAZHI, atau dengan bahasa Arab mereka menyebut “Robithoh Aal Azmatkhan Al-Husaini Indonesia”. Tujuan pembentukan ikatan keluarga ini kurang lebih sama dengan ikatan keluarga yang lain, yaitu untuk menjalin silaturrahim antar sesama keturunan kakek buyut. Hanya saja, mengingat kakek buyut mereka adalah tokoh-tokoh besar di era Walisongo, maka IKAZHI memanfaatkan sejarah leluhur untuk merangsang semangat dakwah anggotanya. Apalagi, kebetulan, kebanyakan Kiai-kiai besar dan tokoh masyarakat Indonesia berasal dari keluarga Azmatkhan keturunan tokoh-tokoh era Walisongo itu. Selain itu, IKAZHI bermaksud menanamkan keteguhan kepada anggotanya, khususnya generasi penerus Kiai-kiai, untuk mengikuti jejak dan cara dakwa leluhur mereka, yaitu bil-hikmah (bijak) dan mau’izhah hasanah (penyampaian yang baik). Hal ini adalah dasar dari apa yang disampaikan oleh KHM. Hasan Mutawakkil Alallah (SURYA 29/10/2007) bahwa IKAZHI diharapkan mampu membuat rumusan-rumusan kesatuan presepsi untuk meminimalisir gerakan radikalisme dalam Islam dan pengaruh negatif dari luar negeri. Dengan demikian, maka walaupun IKAZHI adalah perkumpulan biasa untuk keluarga sesama keturunan kakek buyut, namun akan berdampak banyak pada muslimin dan bangsa Indonesia, karena banyak Ulama dan tokoh masyarakat yang tergabung didalamnya. IKAZHI bergharap dengan keakraban mereka sebagai saudara sesama keturunan Azmatkhan, agar ikatan batin diantara mereka menjadi semakin kuat, sehingga apabila hal itu tercapai maka sudah pasti akan lebih mudah untuk meminimalisir perpecahan, perseteruan dan rasa “gondok” ketika berbeda pendapat. Tidak bisa dipungkiri bahwa tiga penyakit itulah yang sering mempersulit tercapainya penyatuan visi dan misi pokok dakwah. Maka dari itu, IKAZI merangkul semua keturunan Azmatkhan, baik yang bergaris laki-laki maupun bergaris perempuan, berbeda dengan ikatan keluarga keturunan Arab pada umumnya yang hanya merangkul garis laki-laki, karena tujuan IKAZHI adalah silaturrahim keluarga dan mempersiapkan kelurga untuk mengisi barisan dakwah. Makanya dalam sambutan pertemuan kemarin, KHM. Hasan Mutawakkil Alallah berkata: “Kalau keturunan Abdul Malik Azmatkhan di seluruh Indonesia bersatu dan terkoordinasi dengan baik, maka seandainya di negeri ini ada perang (karena diserang musuh), IKAZHI cukup tiup peluit priiit dan pasukan besar siap membela tanah air.” Ucapan KHM. Hasan Mutawakkil Alallah itu tidak muluk-muluk, menurut hasil penelitian yang kami lakukan selama lima tahun ini, hampir semua Kiai dan pengasuh Pesantren salaf Indonesa memiliki silsilah nasab pada Azmatkhan, baik dengan garis laki-laki maupun garis perempuan. Sementara satu pesantren ada yang memiliki santri diatas 10 ribu, seperti Pesantren Zainul Hasan asuhan KHM. Hasan Mutawakkil Alallah, belum lagi ditambah dengan alumni yang jumlahnya jauh lebih banyak. Sedangkan santri pesantren salaf, mereka sudah terdidik patuh kepada guru melebihi kepatuhan terhadap komandan yang diajarkan oleh sekolah militer. Maka tidak muluk-muluk kalau KHM. Hasan Mutawakkil Alallah berkata “cukup tiup peluit priiit dan pasukan besar siap membela tanah air.” Mengenai memasukkan garis perempuan dalam keanggotaan IKAZHI mendapat teguran dari sebagian persatuan marga Arab keturunan, khususnya bangsa “Syarif”, mereka menghawatiran terjadinya kerancuan berkenaan dengan adanya perbedaan hukum tertentu antara keturunan garis laki-laki dan garis perempuan, misalnya dalam bab waris dan wakaf ahlulbayt. Maka perlu diketahui bahwa kerancuan itu sudah kami antisipasi, yaitu dengan mendata rapi semua anggota yang terdaftar, kami memisahkan antara garis laki-laki dan garis perempuan dengan sebuah kode pada kartu anggota, berupa tulisan “Kh.” Di belakang “Azmatkhan” bagi garis perempuan yang mau menggunakan nama belakang “Azmatkhan”. “Kh.” Adalah singkatan dari “Khu’ulah” yang berarti garis perempuan. Diatambah lagi dengan perincian silsilah di bagian belakang kartu, sehingga sangat mudah dikenal apakah anggota pemilik kartu itu keturunan Azmatkhan garis laki-laki atau perempuan. Di sela-sela acara pertemuan kemarin, wartawan SURYA mewancari KH. Ali Badri Azmatkhan dan menanyakan apakah IKAZHI akan mengeluarkan sikap atas masalah-masalah yang bikin keruh suasana negeri ini. Kiai Ali menjawab bahwa IKAZHI hanyalah sebuah ikatan keluarga, bukan organisasi Islam atau organisasi kemasyarakatan. Tapi mengingat anggota IKAZHI banyak dari kalangan Ulama, maka tentu saja suatu saat mereka akan berkumpul sebagai Ulama untuk membicarakan masalah ummat. Dan kalau memang mereka mau membicarakan hal itu maka nanti saja, karena sekarang ini pertemuan khusus untuk membentuk kepengurusan. Mungkin pikiran si wartawan memang sedang tenggelam dengan suasana politik, kemudian dalam pemberitaan SURYA 29/10/2007 ia menyitir ucapan Kiai Ali, “Itu nanti saja, ..” sebagai jawaban beliau dari pertanyaan “apakah IKAZHI juga mau ikut ambil bagian dalam kancah politk”, seolah-olah beliau melihat kemungkinan keterlibatan IKAZHI dalam kancah politik di kemudian hari. Sekali lagi, IKAZI hanya perkumpulan keluarga sesama kakek buyut, bukan organisai kemasyarakatan, jadi sangat jauh dari arah politik. Adapun yang dimaksud dengan pembentukan pengurus IKAZHI adalah mengangkat pengurus rumpun keluarga, karena keturunan Azmatkhan sudah menyebar dan memiliki rumpun sendiri-sendiri, misalnya rumpun Bani Zaman yang merupakan keluarga KHM. Hasan Genggong. Pengurus itu kami sebut “Naqib” dan bertanggung jawab untuk mendata serta mengkoodinasi semua keturunan rumpun yang diamanatkan kepanya. Dalam pertemuan itu kami telah menetapkan pengurus resmi, karena sebelum pertemuan di Genggong ini kami hanya memiliki pengurus darurat untuk menunggu terkumpulnya banyak perwakilan rumpun. Dari itu ketika beberapa wartawan menanyakan posisi KH. Ali Badri Azmatkhan di IKAZHI maka beliau memperkenalkan diri sebagai Wakil Ketua. Dan posisi itu berubah setelah rapat pleno, karena majlis menetapkan beliau sebagai Sekjen. Kami memohon maaf kepada keluarga-keluarga Azmatkhan yang tidak sempat kami undang, baik karena terbatasnya waktu maupun karena kurangnya maklumat tentang keberadaan mereka. Dari itu, bagi yang mengetahui atau memegang silsilah dari leluhur sebagai keturunan Azmatkhan, kami harap agar menginformasikan atau mendaftarkan diri kepada kami. * Kiai Muhammad Mais bin Hasan Azmatkhan, Salah satu Pengasuh Pesantren Bendakereb Cirebon, Wasekjen IKAZHI, Wakil Ketua Fos-Kawal Cirebon PENDAHULUAN Buku di tangan pembaca ini adalah lanjutan dari buku saya yang berjudul “Dari Kanjeng Nabi Sampai Kanjeng Sunan” (DKNSKS), sebuah buku tentang study sejarah dan telaah budaya leluhur keluarga Azmatkhan Al-Alawi Al-Husaini, yaitu keturunan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin Alawi Amil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath Al-Alawi Al-Husaini. Buku DKNSKS memang semacam buku keluarga, namun karena melibatkan tokoh-tokoh Walisongo penyebar Islam di Jawa dan sekitarnya, maka buku itu juga sangat layak untuk dibaca oleh muslimin Indonesia pada umumnya, apalagi buku itu memuat perjalaan estafet tugas da’wah yang diemban oleh kerturunan Rasulullah SAW secara turun temurun hingga pada sebagian besar anggota Walisongo, dilengkapi dengan banyak hikmah yang dikutip dari cara pikir, cara hidup dan cara bergaul mereka. Buku “Dari Kanjeng Sunan Sampai Romo Kiai” ini saya buat berseri, memuat tokoh-tokoh dan ulama keturunan Rasulullah SAW dari keluarga Azmatkhan, yaitu Kiai-kiai keturunan Sunan-sunan yang tergabung dalam rumpun leluhur keluarga Azmatkhan Indonesia. Dan buku di hadapan pembaca ini adalah buku seri pertama menyusul -insyaallah- seri-seri berikutnya memuat sejarah dan riwayat hidup Kiai-kiai yang lain. Ide menulis buku ini berawal ketika pengurus Yayasan Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Kaltim meminta saya untuk memeriksa buku “Surat Kepada Anjing Hitam” karya Saifur Rachman, cetakan Pustaka Ciganjur, untuk dicetak ulang. Kebetulan saya memang sedang berencana untuk menulis buku serial untuk lanjutan buku DKNSKS, dan saya belum menentukan sejarah siapa yang akan saya tulis dalam seri pertama. Maka sayapun mendapatkan ide untuk menulis tentang Syekh Kholil untuk seri pertama. Setelah isktikharah dan datang ke Bangkalan untuk pengumpulan data, akhirnya dalam waktu kurang lebih dua minggu buku ini selesai saya tulis. Buku ini terdiri dari lima bab: Bab I : Sekilas sejarah estafet da’wah mulai dari Rasulullah hingga para Sunan sampai Syekh Kholil. Bab II : Silsilah nasab Syekh Kholil. Bab III : Latar belakang keluarga dan riwayat hidup Syekh Kholil. Bab IV : Kumpulan sebagian cerita karomah Syekh Kholil. Bab V : Generasi keluarga dan penerus perjuangan Syekh Kholil. Saya ucapkan banyak terima kasih kepada Kiai-kiai Bangkalan yang telah membantu saya dengan memberi data-data dan riwayat yang saya perlukan dalam penulisan buku ini. Mereka adalah cucu-cucu Syekh Kholil sendiri, diantaranya adalah: 1. KH. Fuad bin KH. Amin bin KH. Imron bin Syekh Kholil. 2. KH. Thoha bin KH. Kholili bin KH. Abdul Lathif bin KH. Muhammad Thoha dengan Nyai Khotimah binti Syekh Kholil. 3. KH. Ali bin KH. Kholil bin KH. Yasin dengan Nyai Asma’ binti Syekh Kholil. 4. dan KH. ar. Yusuf bin KH. Nashir bin KH. Yasin dengan Nyai Asma’ binti Syekh Kholil. Saya ucapkan terima kasih juga kepada yang terhormat Ketua Majlis Niqabah Rabithah Aal Azmatkhan (Ikatan Keluarga Azmatkhan) Indonesia, KH. Ahmad Ridho bin Shonhaji Azmatkhan, atas dukungannya hingga diterbitkannya buku ini. Semoga buku ini bermanfaat bagi saya dan pembaca. Amien. Cirebon, Jum’at 28 Muharram 1428 / 16 Pebruari Ali bin Badri bin Masyhuri Azmatkhan ESTAFET DA’WAH DARI RASULULLAH S.A.W. HINGGA PARA SUNAN SAMPAI PARA KIAI KETURUNAN RASULULLAH SAW Semua orang Madura dan hampir seluruh orang Jawa, khususnya kaum santri, pasti mengenal nama Syekh Muhammad Kholil yang oleh kebanyakan orang lebih dikenal dengan sebutan “Syaikona Kholil Bangkalan”. Dalam paket-paket ziarah makam-makam wali Madura, makam Syekh Kholil termasuk tiga “makam besar” yang pasti masuk dalam program, selain Makam Syekh Batu Ampar Pamekasan dan Syekh Yusuf Sumenep. Mengingat nasab Syekh Kholil yang bersambung pada Al-Husain bin Fathimah binti Rasulillah SAW, maka saya rasa akan lebih mengasyikkan kalau kita membicarakan tentang dua hal yang berkaitan dengan Syekh Kholil sebagai cucu Rasulullah SAW. Pertama, bahwa Syekh Kholil dan cucu-cucu Rasulullah lainnya -yang memiliki nasab jelas- membuktikan kebenaran janji Allah untuk meberi keturunan yang banyak kepada Rasulullah SAW. Kedua, bahwa Rasulullah SAW tidak hanya cukup bangga dengan jumlah keturunan yang banyak, melainkan beliau akan lebih bangga karena ternyata banyak sekali dari keturunan beliau yang menjadi orang berprestasi. Tentang dua hal ini, sebenarnya saya telah menulisnya dalam buku saya yang berjudul “Dari Kanjeng Nabi Sampai Kanjeng Sunan”. Namun masih sangat pas untuk dibicarakan kembali pada buku ini. Keturunan Rasulullah memenuhi belahan bumi. Ketika Al-Qasim, putra Rasulullah SAW, wafat dalam usia masih kecil, terdengarlah berita duka itu oleh beberapa tokoh musyrikin, diantara mereka adalah Abu Lahab dan ‘Ash bin Wa’il. Mereka kegirangan dengan berita itu, mereka mengejek Rasulullah SAW dengan mengatakan bahwa beliau tidak lagi memiliki anak laki-laki yang dapat melanjutkan generasi keluarga beliau, sementara orang Arab pada masa itu merasa bangga bila memiliki anak laki-laki untuk melanjutkan garis keturunan mereka. Untuk menjawab ejekan Abu Lahab dan ‘Ash bin Wa’il itu, Allah menurunkan surat Al-Kautsar yang ayat pertamanya berbunyi:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

“Sesungguhnya Kami memberimu karunia yang agung.” Al-Kautsar artinya karunia yang agung, dan karunia yang dimaksud dalam ayat itu adalah bahwa Allah akan memberi banyak keturunan pada Rasulullah SAW melalui putri beliau, Fatimah Az-Zahra’. Sementara Abu lahab dan ‘Ash bin Wa’il dinyatakan oleh ayat terakhir surat Al-Kautsar, bahwa justru merekalah yang tidak akan memiliki keturunan, yaitu ayat..

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ

“Sesungguhnya orang yang mengejekmu itulah yang tidak sempurna (putus keturunan).” Benarlah apa yang difirmankan oleh Allah, sampai kini keturunan Rasulullah SAW, melalui Al-Hasan dan Al-Husain putra Fatimah Az-Zahra’, benar-benar memenuhi belahan bumi, baik mereka yang dikenal sebagai cucu Rasulullah oleh masyarakat, maupun yang tidak. Sekedar gambaran, saya memiliki banyak data tentang silsilah Ulama-ulama Pesantren yang dikenal sebagai “Kiai” Indonesia, khususnya Jawa (termasuk Madura), Hampir seratus persen dari mereka memiliki garis nasab pada Rasulullah SAW, seperti Kiai-kiai keturunan keluarga Azmatkhan, Basyaiban dan sebagainya. Kemudian, di berbagai daerah, kaum santri sangat didominan oleh keluarga-keluarga yang bernasab sama dengan Kiai-kiai itu, bedanya hanya karena beberapa generasi sebelum mereka tidak berprestasi seperti leluhur “keluarga Kiai”, sehingga setelah selisih beberapa generasi, merekapun tidak dikenal sebagai “keluarga Kiai”, tapi hanya sebagai “keluarga santri”. Di Madura ada semacam “pepatah” yang mengatakan bahwa kalau ada santri yang sampai bisa membaca “kitab kuning” maka pasti dia punya nasab pada “Bhujuk”. Bhujuk adalah julukan buat Ulama-ulama zaman dulu yang membabat alas dan berda’wah di Madura. Semua Bhujuk Madura memiliki nasab pada Rasulullah SAW. Kebanyakan mereka keturunan Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kudus. “Pepatah” itu memang hanya dibicarakan di kalangan “orang awam”, namun kenyataan memang sangat mendukung, hampir semua masyarakat santri di Madura adalah keturunan “Bhujuk”, sehingga tidak mustahil apabila di Madura orang yang memiliki “darah Rasulullah” lebih banyak daripada yang tidak. Saya banyak mendapati perkampungan yang mayoritas penduduknya masih satu rumpun dari keturunan seorang Bhujuk yang bernasab pada semisal Sunan Ampel dan sebagainya. Mungkin hal itu akan menimbulkan pertanyaan “mengapa bisa demikian?”. Maka jawabannya adalah bahwa keluarga Bhujuk dan Kiai Madura dari zaman dulu memiliki anak lebih banyak daripada orang biasa, apalagi hampir semua mereka dari zaman dulu -bahkan banyak juga yang sampai sekarang- memiliki istri lebih dari satu, maka tentu saja setelah puluhan generasi maka keturunan Bhujuk-bhujuk itu lebih mendominan pulau Madura. Kalau ada yang berkata bahwa tidak semua Kiai keturunan “Sunan” itu bergaris laki-laki, bahkan kebanyakan mereka (?) adalah keturunan “Sunan” dari perempuan, maka pertanyaan itu justru dijawab dengan pertanyaan “kenapa kalau bergaris perempuan?”. Islam dan “budaya berpendidikan” telah “sepakat” untuk membenarkan “status keturunan” dari garis perempuan. Apabila ada orang yang membedabedakan garis laki-laki dan perempuan maka berarti orang itu bukan penganut paham Islam yang sebenarnya dan bukan pula penganut “budaya berpendidikan.” Dan lebih “tidak berpendidikan” lagi orang yang mengatakan bahwa hubungan nasab keturunan anak perempuan terputus dari ayah si perempuan. Paham ini berakibat pada penolakan terhadap keturunan Rasulullah sebagai Ahlulbayt, ada banyak orang Arab awam yang berkata bahwa Rasulullah SAW tidak memiliki keturunan dari anak laki-laki, Hasan-Husain adalah putra Fathimah yang berarti putus nasab dari Rasulullah SAW. Paham ini sebenarnya adalah warisan bangsa Arab jahiliyah yang pernah diabadikan dalam syair mereka

بَنـُوْنَا بَنُوْ أَبْنَائِنَا وَبَـنَاتُنَا بَنُوْهُن

وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيْمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

“Dan orang-orang yang beriman dan anak-cucu mereka mengikuti mereka dengan beriman, maka Kami gabungkan anak cucu mereka itu dengan mereka .. “ (Q.S. Ath-Thur : 21) Jadi, madzhab kita adalah bahwa cucu dari garis perempuan dan dari garis laki-laki itu sama-sama cucu, kalau kakek mereka ulama shaleh maka -insyaallah- mereka sama-sama akan mendapat berkah. Termasuk anak cucu Rasulullah SAW, baik yang garis silsilahnya laki-laki semua hingga ke Rasulullah SAW, maupun yang melaui garis perempuan. Madzhab ini telah lama dianut oleh Kiai-kiai keturunan Walisongo, terbukti dengan banyaknya kiai-kiai yang menulis nasab mereka yang bersambung pada Walisongo melalui garis perempuan. Terbukti pula dengan yang dikenal oleh Kiai-kiai bahwa Syekh Kholil adalah cucu Sunan Gunung Jati, padahal nasab Syekh Kholil pada Sunan Gunung Jati melalui garis perempuan, sedangkan dari garis laki-laki bernasab pada Sunan Kudus. Madzhab ini baru tergeser sejak kedatangan orang-orang Arab pendatang baru. Kebetulan, mereka datang dari sebuah budaya dan adat yang memarginkan nasab garis perempuan. Terus terang saja, di hadapan mereka, pada umumnya keturunan Walisongo kalah fasih didalam berbahasa Arab, penampilan dan perawakan juga kalah, ditambah lagi darah keturuan Walisongo telah banyak bercampur dengan darah pribumi yang “dingin”, membuat mereka pada umumnya berpembawaan lembut. Nah, hal itulah yang membuat keturunan Walisongo sering mengalah pada orang Arab pendatang baru, termasuk mengalah dengan klaim mereka bahwa pendapat yang benar adalah “terputusnya nasab garis perempuan”. Bahkan sebagian keturunan Walisongo -tentu saja yang tidak ‘alim-, saya lihat mereka bukan mengalah, akan tetapi lebih pas disebut “dibodohi”, mau-maunya mereka mecampakkan madzhab leluhur demi mengikuti madzhab baru yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kekuatan argumentasinya. Namun, kenyataan juga membuktikan bahwa ikut-ikutan mereka itu hanya ketika berhubungan dengan orang Arab pendatang baru. Terbukti dengan komentar seorang santri Madura yang saya anggap mewakili santri lain yang semadzhab, santri itu pernah berkata pada seseorang anak pasangan lelaki Madura dan perempuan Arab: “Kamu bukan keturunan Arab, soalnya ibu kamu yang Arab.” Sementara ketika ia ditanya tentang siapakah Kiai Abdullah Sachal, maka kontan saja santri itu menjawab: “Kiai Abdullah Sachal adalah keturunan Syekh Kholil Bangkalan.” Padahal dia tahu persis bahwa Kiai Abdullah Sachal adalah cucu Syekh Kholil dari garis ibu. Mengapa kalau ibunya orang Arab disebut bukan keturunan Arab, sedangkan kalau ibunya bernasab pada Syekh Kholil disebut keturunan Syekh Kholil?! Tidak ada seorangpun santri Madura yang berpikir -apalagi sampai berani bilang- bahwa Kiai Abdullah Sachal putus nasab dari Syekh Kholil. Ini menunjukkan kerancuan dan keraguan si santri didalam bermadzhab, karena memang pada dasarnya semua santri Jawa dan Madura lebih cenderung pada madzhab Kiai-kiai yang diwarisi secara turun temurun sejak Walisongo, bahwa tidak ada bedanya antara garis laki-laki dan garis perempuan, kecuali dalam bab waris yang memang telah dibedakan oleh Islam dengan suatu alasan yang positif dan rasional. Kembali ke bab kita, bahwa di Madura banyak terdapat keluarga-keluarga yang memiliki nasab pada Rasulullah, maka seperti di Madura, begitu pula yang terjadi di berbagai wilayah masyarakat Pesantren lainnya di Jawa. Maka bayangkan saja, betapa keturunan Rasulullah SAW telah memenuhi pulau Jawa, belum lagi di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain. Ditambah dengan “jamaah habaib” yang memang sudah dikenal dengan “status menonjol” sebagai keturunan Rasulullah SAW. Ini yang terjadi di Indonesia, dan demikian pula di negeri-negeri non Arab yang lain, seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, Filipina, India, Pakistan, Afrika dan sebagainya. Banyak dari mereka yang sudah membaur dengan penduduk setempat sehingga mereka tidak lagi dikenal sebagai “Habib”, “Sayyid” atau julukan-julukan lainnya. Dalam kitabnya, “’Allimu Auladakum Mahabbata Aalin Nabi”, Syekh Muhammad Abduh Yamani mengatakan bahwa di Afrika banyak terdapat orang-orang kulit hitam yang ternayata memegang sisilsilah pada Rasulullah. Hal itu dikarenakan leluhur mereka berbaur dengan orang kulit hitam, bergaul dan menikah dalam rangka menjalin hubungan sebagai jembatan da’wah. Kenyataan ini menyimpulkan bahwa masih banyak keturunan Rasulullah SAW yang tidak terdata dan tidak dikenal. Itu adalah gambaran jumlah keturunan Rasulullah SAW yang keluar dari tanah Arab dan tidak dikenal sebagai orang Arab. Jumlah yang amat besar ditambah dengan jumlah keturunan Rasulullah SAW yang di Arab. Maka kenyataan ini membenarkan apa yang dinyatakan oleh Allah SWT dalam surat Al-Kautsar, bahwa Rasulullah SAW akan diberi karunia agung dengan memiliki keturunan yang amat banyak. Sehingga kalau saja beliau dan orang-orang sezaman beliau masih hidup saat ini, maka beliau akan memiliki keluarga terbesar yang tak tertandingi oleh yang lain. Bisa jadi, bila kita mengumpulkan semua keturunan Rasulullah SAW sejak zaman beliau hingga kini, kemudian kita mengumpulkan seratus orang dari sahabat-sahabat beliau beserta keturunan mereka hingga kini, maka jumlah keturunan beliau akan mengalahkan keturunan seratus orang sahabat beliau. Anak cucu berprestasi Banyak anak itu identik dengan “barokah”, dan memang dapat dikatakan demikian, karena keturunan beriman itu sangat bermanfaat, walaupun mereka tidak sampai menjadi orang-orang hebat dan berprestasi. Adapun Rasulullah SAW, beliau tidak hanya bisa bangga dengan banyak keturunan, melainkan beliau lebih bangga lagi karena ternyata keturunan beliau banyak melahirkan orang-orang hebat dan berprestasi. Sebagai orang Asia, kita pantas tahu siapa orang-orang yang berjasa mengislamkan negeri-negeri Asia ini. Maka ketahuilah bahwa hampir semua mereka adalah keturunan Rasulullah SAW. Sering terjadi perselisihan pendapat tentang dari mana datangnya para penyebar Islam di negeri-negeri Asia, termasuk Indonesia. Namun kalau diteliti maka perselisihan itu ibarat tiga orang buta yang menggambarkan bentuk gajah. Yang pertama berkata bahwa gajah itu mirip daun yang lebar dan tebal, karena ia hanya pernah meraba telinga gajah. Yang kedua berkata bahwa gajah itu mirip cambuk, karena ia hanya pernah memegang ekornya. Yang ketiga berkata bahwa gajah itu mirip pipa tapi lunak, karena ia hanya pernah memegang belalainya. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang berselisih pendapat tentang dari mana asal para pembawa Islam ke Indonesia. Ada yang berkata bahwa mereka berasal dari India, karena ditemukan batu-batu ukir khas Gujarat pada makam-makam mereka. Ada yang berkata bahwa mereka berasal dari Persia, karena di Persia terdapat sebuah perkampungan kuno yang dikenal dengan sebutan Kampung Jawi. Ada yang berkata bahwa mereka berasal dari Cina, karena Sunan Ampel adalah kelahiran Cina. Yang lain berkata bahwa semua itu salah, adapun yang benar adalah bahwa mereka berasal dari Arab. Semua pendapat itu sebenarnya sama-sama benar. Namun lebih gamblangnya adalah bahwa para penyebar Islam itu berasal dari Arab, mereka keluar dari Arab dan mulai masuk ke tanah India, kemudian mereka atau generasi penerus mereka melanjutkan da’wah ke tanah Persia dan daratan Cina sampai akhirnya masuk ke Indonesia. Kebanyakan mereka adalah keluarga Ahlul-bayt (keluarga Rasulullah SAW) keturunan Al-Husain, mereka datang dengan berbagai “profesi lahiriah”, ada yang tampil sebagai pedagang, politikus, pelancong dan sebaginya. Namun misi utama mereka adalah memperkenalkan Islam pada penduduk negeri-negeri. Sejarah mencatat bahwa kedatangan Sayyid Abdul Malik bin Alawi ‘Ammil-faqih (kakek keluarga Azmatkhan) mengawali sejarah Islam di India, sejarah juga mencatat bagaimana putra beliau, Sayyid Abdullah Azmatkhan, bersaing dengan Marcopolo di daratan Cina, kemudian keturunan beliau juga mewarnai sejarah da’wah di Pilihpina, Indonesia dan sekitarnya. Dalam buku berjudul “Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah”, H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini menukil perkataan Van den Berg, bahwa pengaruh islam di kalangan pribumi Indonesia bersumber dari kaum Alawiyyin yang bergelar “Sayyid” dan “Syarif”. Berkat upaya dan kegiatan mereka itulah agama Islam tersebar di kalangan Kerajaan Hindu di pulau Jawa dan di pulau-pulau lainnya. Meskipun ada orang-orang lainnya yang berasal dari Hadhramaut, mereka tidak mempunyai pengaruh yang kuat. Kenyataan besarnya pengaruh kaum “Sayyid” dan kaum “Syarif” terpulang pada martabat mereka sebagai keturunan seorang Nabi dan Rasul pembawa agama Islam, yakni Nabi Muhammad SAW. Al-Hamid juga menukil perkataaan Snouck Hurgronje yang menyatakan bahwa sebagian besar penyebar agama Islam datang dari negeri jauh. Kebanyakan mereka dipanggil “Sayyid” karena mereka dari keturunan Al-Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad. Tidak sedikit dari mereka yang sukses berda’wah dengan memanfaatkan kedudukan, merekapun menunjukkan kecakapan mereka didalam hal memimpin hingga merekapun dipercaya untuk memimpin sebuah Kerajaan, dan setelah mereka menjadi penguasa maka merekapun menerapkan hukum Islam sebagai landasan pemerintahan Kerajaan mereka. Buku “Sejarah Serawak” di perpustakaan “Rafles”, di Singapura, menyebutkan bahwa Sultan Barakat adalah seorang keturunan Al-Husain. Dijelaskan pula bahwa beliau datang dari Tha’if dengan sebuah kapal perang yang sangat terkenal pada saat itu. Nasab beliau adalah Barakat bin Thahir bin Isma’il (terkenal dengan nama julukan “Al-Bashriy“) bin Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir. Disebutkan pula bahwa kaum Syarif di Makkah pada umumnya adalah keturunan Al-Hasan, mereka tidak melakukan penyebaran Islam ke seberang lautan. Adapun yang menyebarkan Islam hingga ke seberang lautan adalah kaum Sayyid keturunan Al-Husain yang berasal dari Hadhramaut. Kegiatan itu lebih gencar mereka lakukan setelah terjadinya penyerbuan kaum Khawarij sekte Abadhiyyah terhadap Hadhramaut. Kota tempat mereka bermukim adalah Bait Al-Jabir, termasuk pusat perniagaan di negeri itu. Mereka mengumpulkan bekal dari Mirbath, kemudian diangkut dengan kafilah ke Yaman. Disebutkan pula: Sejarah kaum muslimin Filipina dan sejarah Sulu menyebutkan bahwa mereka berasal dari keturunan ‘Abdullah bin Alawi Ammul-Faqih bin muhammad Shahib Mirbath. Sayyid Abdullah bin Alawi adalah bersaudara dengan Sayyid Abdul Malik (kakek marga Azmatkhan) dan Sayyid Abdurrahman (kakek marga Al-Haddad dsb.). Semula, keturunan Sayyid Abdullah dianggap telah putus generasi, karena mereka meninggalkan Hadhramaut dan tidak ada kabar tentang mereka, sehingga pada beberapa generasi yang lalu Ulama ahli nasab tidak mencatat Sayyid Abdullah sebagai nenek moyang yang memiliki keturunan. Namun kini mereka telah mengetahui bahwa sejarah Filipina telah mencatat keberadaan keturunan beliau, walaupun sampai saat ini saya belum tahu apakah mereka sudah mengadakan kontak dengan keluarga yang di Yaman atau tidak. Saya pernah beberapakali melihat poster silsilah di beberapa rumah Habib, dimana distu ada kesalahan dengan menulis Abdullah ini sebagai pemilik gelar “Azmatkhan”, mungkin penyusunnya salah menukil atau tertukar nama dengan Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan, karena memang –nampaknya- nama belakang Azmatkhan lebih populer ditulis dibelakang nama Abdullah bin Abdul Malik ketimbang dibelakang nama Abdul Malik-nya. Mungkin hal itu membuat penyusun poster itu menganggap bahwa Abdullah adalah orang pertama yang bergelar Azmatkhan, dan Abdullah pun tertukar lagi antara Abdullah bin Abdul Malik dan Abdullah bin Alawi (saudara Abdul Malik). Maka bagi yang memiliki poster itu saya harap untuk mencoretnya dan memberi catatan sebagai koreksi agar tidak terjadi kesalahan didalam mengambil referensi. Da’i-da’i Ahlul-bayt bukan hanya memperkenalkan Islam pada orang-orang Asia, melainkan mereka juga mengajarkan budaya pelestarian dan pembukuan sejarah. Al-Hamid menukil bahwa di dalam buku berjudul “Department of The Interior Ethnological Survey Publication Studies in Moro History Law Relegioan“ (Manila Bireau of Republic Printing 1905), didalam menyebut sejarah Mindanau, Naqeeb M. Saleeby berkata: “Sebelum kedatangan Islam tidak terdapat data sejarah yang akurat, dan tidak terdapat pula kisah atau cerita-cerita yang diingat orang. Setelah kedatangan Islam barulah tampak penyebaran ilmu (pengetahuan), peradaban dan berbagai kegiatan. Undang-undang Dasar yang baru ditetapkan bagi negara, ketentuan-ketentuan hukum tertulis ditetapkan dan silsilah serta cabang-cabang keturunan dari orang besar dibakukan, kemudian dengan hati-hati dan dijaga baik-baik oleh semua Sultan dan para bangsawan”. Silsilah tersebut dibakukan dalam sebuah catatan sejarah yang tertulis dengan bahasa Melayu tinggi, terjemahannya dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: “Alhamdulillah, saya yakin sepenuhnya bahwa Allah menjadi saksi atas saya. Buku catatan ini berisi silsilah Rasulullah SAW (yaitu mereka) yang tiba di Mindanau. Sebagaimana diketahui, Rasulullah SAW mempunyai seorang putri bernama Fatimah Az-Zahra. Putri itu melahirkan dua orang Syarif… dst. Keturunan dari Muhammad (Al-Baqir) putra (Ali) Zainal Abidin (yakni mereka yang datang dari Johor) ialah Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah (Saudara Sayyid Abdul Malik Azmatkhan) bin Alawi Ammil-Faqih… dst.” Dalam bukunya, “Sejarah Umat Islam”, HAMKA mengatakan bahwa banyak kaum Sadah (Alawiyyin) dan keturunan para sahabat Nabi yang datang dari Malabar. Dikatakan juga bahwa Syarif Ali Ad-Da’iyah menikah dengan keponakan Sultan Muhammad, Sultan Brunai. Kemudian setelah Sultan Muhammad wafat maka Kesultanan diserahkan kepada adik Sultan Muhammad yang bernama Ahmad, setelah Sultan Ahmad meninggal maka dinobatkanlah Syarif Ali sebagai Sultan, maka beliaupun menjadi Sultan ketiga Brunai Darussalam. Syarif Ali adalah seorang keturunan Al-Hasan, marga beliau adalah Al-Bulkhi atau Al-Bulqiyah. Dengan huruf latin mereka biasa menulisnya “Al-Bolkiah”, seperti Sultan Hasan Al-Bolkiah. HAMKA juga mengatakan bahwa orang-orang keturunan Arab, khususnya kaum Sayyid, mendapatkan kedudukan dan martabat sangat terhormat. Keturunan mereka memegang tampuk kesultanan Aceh. Sultan yang pertama adalah Sultan Badrul Alam Asy-Syarif Hasyim Jamalullail (1699-1702). Demikian pula dengan Sultan-sultan Kesultanan Siak, Kesultanan Perlis dan Kesultanan Pontianak, mereka adalah kaum Alawiyyin. Dari riwayat-riwayat itu, kita dapat membayangkan bagaimana senyum Rasulullah SAW ketika beliau menyaksikan keturunan beliau telah memenuhi dan menerangi bumi ini dengan cahaya Islam. Termasuk cucu beliau, Syekh Kholil Bangkalan, yang telah banyak berjasa menyebarkan ilmu dan da’wah Islam di pulau Madura, Jawa dan sekitarnya. [*] Keterangan Selengkapnya di. www. azmatkhanalhusaini. com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.